
Menurut Howard Gardner, ada 8 jenis kecerdasan sebagai berikut “
1.word smart—kecerdasan dalam mengolah kata
2.picture smart—kecerdasan dalam mempersepsi apa yang dilihat
3.music smart—kecerdasan dan kepekaan dalam hal musik
4.logic smart—kecerdasan dalam sains dan matematika
5.nature smart—kecerdasan dan kepekaan dalam mengamati alam
6.people smart(interpersonal smart)—kecerdasan dalam memahami pikiran dan perasaan orang lain
7.self smart(interpersonal smart)—kecerdasan dalam mengenali emosi diri sendiri
8.body smart—kecerdasan dalam keterampilan olah tubuh dan gerak
Dalam perkembangan termutakhir, parapakar menambahkan kecerdasan majemuk tersebut dengan tipe kecerdasan ke-9, yakni kecerdasan spiritual. Namun, seorang psikolog mengatakan, bahwa menurutnya kecerdasan spiritual bukanlah salah satu bagian dari ke-8 jenis kecerdasan tersebut diatas. Karena, dengan kecerdasan spiritual akan menjadi kendali dari berbagai potensi yang kita miliki agar berjalan harmonis dengan Allah sebagai pusat optimalisasi potensi tersebut.
Konsep kecerdasan majemuk ini mampu menerangkan, bahwa definisi cerdas sesungguhnya tak sesempit yang kita bayangkan selama ini. Kita menganggap orang yang cerdas adalah yang kuat dalam bidang matematika, atau sains.sementara, orang yang memiliki bakat yang luar biasa dalam bidang seni atau olahraga misalnya basket, sering dipandang sebelah mata. Sebagai kritik dari saya untuk sekolah saya SMA Negeri 1 Banjarnegara, mengapa para penerima beasiswa hanya untuk anak2 yang berprestasi dalam bidang akademis saja? Bagaimana dengan beasiswa bidang non akademis? Mengapa sampai sekarang saya belum mendengar ada beasiswa untuk prestasi bidang non akademis? Tanya kenapa? Hehee…Saya mengambil contoh dalam bidang basket karena saya memang sangat menggemari olahraga ini, dan inilah cara pandang beberapa orang melihat kita2 sebagai anak basket atau anak yang suka dalam bidang basket. Nha…demikian juga seorang siswa yang lemah dalam nilai akademis, namun ternyata memiliki banyak teman dan mampu membina persahabatan yang baik, tetap saja dibilang bodoh, bahkan nakal, karena anak-anak dengan kecerdasan interpersonal yang tinggi namun kurang mendapat perhatian dari orang tua, biasanya akan menjadi pemimpin sebuah gank yang orientasinya cenderung sebagai trouble maker. Kata pintar dan bodoh diperolah dengan asumsi- asumsi yang sangat sempit. Dan cap yang diberikan kepada mereka, akhirnya justru membangun mereka sebagai sosok yang senada dengan capnya. Si pintar yang semakin keminter dan meremehkan orang lain. Sementara si bodoh dan si nakal, akan semakin tenggelam dalam kebodohan dan kenakalannya.
Meskipun jika dilihat sekilas kecerdasan intelektualitas tampak mendominasi, namun dalam praktek keseharian kecerdasan emosi yakni people smart dan self smart merupakan sebuah kebutuhan penting yang tak bisa dihindari. Anda bias bayangkan, untuk hidup bermasyarakat, apa yang terjadi jika seseorang tidak memiliki people smart? Ia akan dianggap sebagai manusia egois yang tak mengerti perasaan rang lain. Ia dihindari, dianggap seperti alien, sebagai musuh.
Adanya konsep kecerdasan majemuk ini menjadi dasar pemikiran bahwa setiap manusia sesungguhna memiliki keunikan tersendiri yang berbeda satu sama lain. Kita tidak bisa mendefinisikan manusia cerdas dai asumsi yang seragam. Setiap orang akan memiliki keunggulan yang berbeda- beda bidangnya. Seorang professor di bidang kedokteran tidak bisa mengatakan seorang Allen Iverson sebagai orang bodoh meskipun pendidikan dia tidak secemerlang sang professor, karena Iverson memiliki kebintangan di bidang lain yang lain, yakni olahraga, khususnya bola basket. Demikian juga, seorang sarjana matematika yang IPK-nya cum laude, tidak bisa menuding seorang gitaris yang berkali- kali mendapatkan penghargaan dari blantika music negeri sebagai orang tolol, hanya gara- gara nilai matematika si gitaris itu hanya mendapat kursi terbalik a.k.a angka empat.
Pada dasarnya, semua manusia sesungguhnya memiliki 8 jenis kecerdasan tersenut, meskipun kadarnya bebeda- beda. Ada yang menonjol kecerdasan logikanya, ada pula yng teroptimalkan jecerdasan kinestetiknya. Pada setiap manusia, dipastikan ada tipe kecerdasan yang dominant, yang merpakan bakat, anugerah Allah. Hanya sayangnya, tak semua bakat itu bisa muncul apalagi teropimalkan dengan baik. Biasanya, ini disebabkan katena kesalahan orangtua atau lingkungan dalam mendidik kita, dengan demikian, manusia yang cedas adalah manusia yang mampu menjadi dirinya sendiri, yakni menjadi sosok yang ia miliki itu, ia mampu menyelesaikan berbagai masalah yang menimpanya maupun menmpa orang2 di sekitarnya.
Posted by: rhinoceros15
Dikutip dan sedikit perubahan dari “and the star is me!” karangan afifah afra


Tidak ada komentar:
Posting Komentar